Praktikum Kimia Fisik I (Kesetimbangan Fasa)
A.
Judul :
Kesetimbangan Fasa
B.
Tujuan :
Membuat
kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran dua cairan tertentu
C.
Dasar Teori
Diagram fasa yang mengambarkan terpisahnya padatan
dan cairan dari sebuah campuran berkomponen, yang termasuk kedalamnya adalah
penurunan titik beku, kelarutan ideal, pembentukan-pembentukan senyawa dengan
titik lebur yang kongruen dan yang tak kongruen dan pembentukan larutan padat.
Fasa adalah bagian sistem yang komposisi kimia dan sifat-sifat fisiknya seragam,
yang terpisah dari bagian sistem lainya oleh adahnya bidang batas. Perilaku
fasa, yang dipunyai suatu zat murni adalah sangat beragam dan rumit, akan
tetapi data-datanya dapat dikumpulkan dan kemudian dengan termodinamika dapat
dibuat ramalan-ramalan. Pemahaman mengenai perilaku fasa berkembang dengan
adahnya aturan fasa gibbs (Robert A. dan
Alberty.1987:96-97).
Persamaan Clausius dan persamaan Clausius-Clapeyron
menghubungkan perubahan tekanan kesetimbangan dengan perubahan suhu. Sistem
cair-cair yang terdapat atas dua komponen mungkin mempunyai perilaku yang sama
dengan campuran ideal gas-gas. Dengan demikian konsepsi larutan ideal
memberikan suatu standar untuk perbandingan bagi larutan-larutan nyata.
Penyimpangan dari keadaan ideal dinyatakan dengan koefisien keaktifan.
Kenyataan bahwa tekanan dalam dua buah fasa yang setimbang harus sama dapat
dibuktikan dengan pengadaian bahwa fasa a bertambah besar volumenya dengan dv
dan fasa b berkurang volumenya dengan dv pula. Bila suhu dan volume sistem
secara keseluruhan tetap, dA= 0 (Robert
A. dan Alberty.1987:96-97).
Kondisi kesetimbangan untuk sembaran sistem yaitu
bahwa potensial kimia dan tiap konstituen pada seluruh sistem harus sama. Bila
ada beberapa fase dari tiap konstituen, maka potensial kimia setiap konstituen
pada tiap fase harus mempunyai nilai yang sama. Misalnya bila temperature dan
tekanan sembarang larutan air berada dalam kesetimbangan dengan uap air dan es
padat. Persamaan Clapeyron mengambarkan variasi tekanan dengan temperature pada
keadaadn kesetimbangan atau menghubungkan ketergantungan kuantitas dari
temperature kesetimbangan dengan tekanan (Dogra.1990:446-447).
Bila dua zat di campur dengan komposisi yang
berbeda-beda maka akan terdapat tiga kemungkinan yang terjadi, yaitu kedua zat
cair tidak dapat bercampur dengan yang lainya atau tidak bercampur sama sekali,
zat cair dapat bercampur hanya pada komposisi tertentu (Hiskia.1999).
Fasa adalah keadaan materi yang seragam diseluruh
bagiannya, bukan hanya dalam komposisi kimianya, melainkan juga dalam keadaan
fisiknya. Banyaknya fasa dalam sistem diberi notasi p. Gas atau campuran gas
adalah fasa tunggal; kristal adalah fasa tunggal; dan dua cairan yang dapat
bercampur secara total membentuk fasa tunggal (p = 1) adalah es, walaupun es
itu dapat dipotong – potong menjadi bagian – bagian kecil. Campuran es dan air
adalah sistem dua fasa (p = 2) walaupun sulit untuk menentukan batas antara
fasa – fasanya ( Atkins. 1989).
Kesetimbangan fasa antara cairan dan uap terjadi
keika dua proses yang berlawanan itu berlangsung dengan laju yang tepat sama.
Maka jika distribusi laju molekular diketahui untuk berbagai suhu kita dapat
membuat perkiraan teoritis dari tekanan uap sebagai fungsi dari suhu. Ketika
cairan menguap molekul dengan kecepatan tinggilah yang lepas dari permukaan.
Sementara itu yang tertinggal rata – rata memiliki energi yang lebih sedikit.
Hal ini memberikan sudut pandang molekular dari pendinginan dan pengembunan (D.
Young Hugh : 2002).
Berdasarkan hukum fasa Gibbs, jumlah terkecil
perubahan derajat kebebasan yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu
system dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan sebagai : ν = C –
P + 2. Dengan ν = jumlah derajat kebebasan, C = jumlah komponan, dan P = jumlah
fasa. Dalam ungkapan di atas
kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan dan komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada
suhu dan tekanan tetap dinyatakan sebagai ;ν = 3 –
P. Jika dalam sistem hanya terdapat satu
fasa dalam kesetimbangan, ν = 2, berarti untuk
menyatakan kesdaan sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua
komponennya. Sedangkan bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan,
ν = 1, berarti hanya satu
komponen yang ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen lain sudah
tertentu berdasarkan diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena itu sistem tiga komponen pada
suhu dan tekanan tetapmempunyai jumlah derajat kebebasan maksimum = 2 (jumlah
fasa minimum = 1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu
bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang
dibuat untuk diagram terner. Tiap sudut
segitiga tersebut menggambarkan suatu komponen murni.
Kemudian bila suatu sistem terdiri dari dua lapisan
cairan yang tidak bercampur atau bercampur sebagian. Jika ditambahkan zat
ketiga yang larut dalam kedua lapisan tersebut. Maka zat tersebut akan
terdistribusi diantara kedua lapisan dengan perbandingan tertentu, selain itu
dalam larutan terdapat dua macam kemungkinan terjadinya kesetimbangan antara
lain yang pertama, kesetimbangan yang terbentuk dapat berupa kesetimbangan
heterogen atau homogen. Dimana kesetimbangan adalah kesetimbangan yang terjadi
pada campuran dalam fase yang sama maupun dua fase yang berbeda (Atkins. 2006)
D.
Alat
dan Bahan
1. Alat
|
No
|
Nama Alat
|
Kategori
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
1.
|
Gelas Kimia
|
1
|
![]() |
Digunakan sebagai tempat larutan
|
|
2.
|
Corong
|
1
|
![]() |
Digunakan pada saat memasukkan cairan
dalam suatu wadah
|
|
3.
|
Erlenmeyer
|
1
|
![]() |
Digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi
|
|
4.
|
Pipet tetes
|
1
|
![]() |
Digunakan untuk mengambil bahan yang berbentuk
larutan dalam jumlah yang kecil
|
|
5.
|
Buret
|
1
|
![]() |
Digunakan untuk melakukan titrasi
|
|
6.
|
Neraca
analitik
|
2
|
![]() |
Digunakan untuk menimbang berat suatu benda
atau zat kimia
|
|
7.
|
Statif
dan klem
|
1
|
Digunakan sebagai penjepit,misalnya
menjepit buret dalam proses titrasi
|
|
|
8.
|
Piknometer
|
1
|
![]() |
Mengukur nilai massa jenis atau densitas
fluida
|
2. Bahan
|
No
|
Nama
Bahan
|
Kategori
|
Sifat
Kimia
|
Sifat
Fisika
|
|
1.
|
Aquades
|
Umum
|
- Bersifat polar dan merupakan elektrolit kuat.
Pelarut
yang baik bagi senyawa organik.
|
- Berat molekul 18 g/mol
- Titik didih 100oC
- Titik beku 0oC
- Densitas 0,998 kg/m3
Wujud
cair
|
|
2.
|
Benzena
|
Khusus
|
- Merupakan cairan yang mudah terbakar.
- Lebih mudah mengalami reaksi subtitusi daripada
adisi
- Dapat bereaksi dengan halogen H2SO4,
asam nitrat dan alkil halida
|
- Tidak berwarna
- Berwujud cair pada suhu ruangan (270oC)
- Titik didih 80,10oC
- Titik leleh -5,50oC
|
|
3.
|
Alkohol
Teknis
|
Khusus
|
- Rumus molekul C2H5OH
- Rumus empiris C2H6O
- Merupakan isomer konstituonal dari dimetil eter
|
- Tidak berwarna dan mudah terbakar
- Massa molar 46,07 g/mol
- Titik lebur -114,30C dan titik didih
78,40C
|
E.

Prosedur kerja

Catatan : untuk
perbandingan 2:8, 3:7, 4:6, 5:5, 6:4, 7:3, 8:2, 9:1 prosedurnya sama.
![]() |
![]() |
Catatan : untuk
massa jenis dari benzene dan etanol prosedur sama dengan aquades
F.
Hasil
Pengamatan dan Perhitungan
1. Hasil
pengamatan
|
Labu
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Aquades
(mL)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
Benzen
(mL)
|
15,7
|
12
|
9,7
|
7,4
|
4,1
|
2,8
|
1,3
|
0,9
|
0,5
|
|
Alkohol
(mL)
|
9
|
8
|
7
|
6
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Ø Menentukan
masing-masing rapat cairan murni A, B, dan C.
Dik:
ρair
= 1 g/mL
Wk=
20,57696 gram
Vp
= 25 mL
WA
= 45,7113 gram
WB
= 35,5171 gram
WC
= 43,2399 gram
1.
Aquadest
=

=
1,0065 gram/mL
n =

= 
= 1,398 mol
2. Benzena
=

= 0,9 gram/mL
n =
=
= 0,288 mol
3. Alkohol
(etanol)
=

=
0,7 gram/mL
n = 
= 
= 40,379 mol
Ø Untuk Labu 1
Mencari mol
nA =
=
= 0,0559 mol
nB =
=
= 0,1809 mol
nC =
=
= 0,1367 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
14,97% mol
XB =
x 100% =
x 100% =
48,3 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
36,51% mol
Ø Untuk Labu 2
Mencari mol
nA =
=
= 0,1118 mol
nB =
=
= 0,1383 mol
nC =
=
= 0,1216 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
31,75% mol
XB =
x 100% =
x 100% =
37,20 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
32,71% mol
Ø Untuk Labu 3
Mencari mol
nA =
=
= 0,1678 mol
nB =
=
= 0,1118 mol
nC =
=
= 0,1064 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
43,47 % mol
XB =
x 100% =
x 100% =
30,57 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
27,54 % mol
Ø Untuk Labu 4
Mencari mol
nA =
=
= 0,2237 mol
nB =
=
= 0,0853 mol
nC =
=
= 0,912 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
55,8 1% mol
XB =
x 100% =
x 100% =
21,3 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
22,97 % mol
Ø Untuk Labu 5
Mencari mol
nA =
=
= 0,2796 mol
nB =
=
= 0,0472 mol
nC =
=
= 0,0351 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
69,57 % mol
XB =
x 100% =
x 100% =
11,74 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
18,69 % mol
Ø Untuk Labu 6
Mencari mol
nA =
=
= 0,3355 mol
nB =
=
= 0,0323 mol
nC =
=
= 0,0608 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
78,28 % mol
XB =
x 100% =
x 100% =
7,54 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
14,16 % mol
Ø Untuk Labu 7
Mencari mol
nA =
=
= 0,3914 mol
nB =
=
= 0,0141 mol
nC =
=
= 0,0456 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
86,76 % mol
XB =
x 100% =
x 100% =
3,126 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
10,10 % mol
Ø Untuk Labu 8
Mencari mol
nA =
=
= 0,4473 mol
nB =
=
= 0,0104 mol
nC =
=
= 0,0304 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
91,64 % mol
XB =
x 100% =
x 100% =
3,36 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
6,23 % mol
Ø Untuk Labu 9
Mencari mol
nA =
=
= 0,5034 mol
nB =
=
= 0,0058 mol
nC =
=
= 0,0152 mol
Fraksi mol
XA =
x 100% =
x 100% =
95,91 % mol
XB =
x 100% =
x 100% =
1,10 % mol
XC =
x 100% =
x 100% =
2,899 % mol
C
0,2 0,8
0,4 0,6
0,5 0,5
0,6 0,4
0,8
0,2
0,9 0,1
A 0,1 0,2
0,3 0,4 0,5
0,6 0,7 0,8
0,9 B
G.
Pembahasan
Transisi dari suatu
fasa ke fasa lainnya disebut perubahan fasa. Perubahan dari satu fasa ke fasa
lain umumnya berlangsung pada kondisi kesetimbangan fasa. Langkah pertama
dilakukan adalah menacmpurkan 1 mL aquades dengan 9 mL alcohol dalam labu
Erlenmeyer yang kemudian dititrasi dengan benzene sampai warnanya menjadi
keruh, hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak volume benzene yang
digunakan untuk menitrasi campuran aquades dan alcohol sampai keruh. Volume
benzene sebanyak 15,7 mL. langkaih ini juga berlaku untuk perbandingan aquades
dan alcohol pada volume 2:8 sampai pada volume 9:1. Didapatkan hasil bahwa,
ketika volume aquades semakin tinggi dengan pernadingan alcohol yang volumenya
semakin kecil, maka volume benzene pun semakin menurun, sehingga tingkat
kekeruhan tersebut akan semakin cepat terjadi, dan kekeruhan itulah yang
merupakan titik akhir titrasi, dimana
titrasi harus dihentikan.
Menghitung rapat massa larutan aquades,
benzene dan alcohol dengan menggunakan pikonometer dan neraca analitik.
Didapatkan rapat massa aquades 1 g/cm3, massa jenis alcohol 0,78 g/cm3,
dan massa jenis benzene 0,87 g/cm3.
Perbedaan ini terjadi akibat masing-masing larutan yang berada dalam piknometer
tidak sama, karena tergantung sedikit atau banyaknya laruyan yang keluar ketika
piknometer ditutup.
H. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa suatu kurva dapat
dibuat dengan cara menghitung fraksi mol untuk setiap labu, maka didapatkan
bahwa semakin banyak volume aquades dan semakin sedikit volume alcohol, maka
semakin sedikit pula volume benzene yang dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,
Hiskia.1999. Kimia Fisika. Jakarta :
Depdikbud
Atkins,
P. W. 1989. Kimia Fisika Jidid 1 Edisi
Keempat. Jakarta: Erlangga
Atkins,
P. W. 2006. Kimia Fisika Jidid 1 Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga
Dogra,
S.K. 1990. Kimia Fisika dan Soal-Soal.
Jakarta : UI Press
Hugh, D. Young. 2002. Fisika Universitas Jilid 1 Edisi Kesepuluh.
Jakarta:
Erlangga.











Komentar
Posting Komentar